MARGE 4 MUARA SAHUNG
- MUKADIMAH
Blog ini kubuat sengaje kandik melestarika sejarah mangke anak cucung puyang dikde bute nga sejarah dusun laman ninik muyangnye.
tulisan ini pule aku yakin belum lengkap, tentu masih agi banyak kesalahan dalam penjabarannye ni,ulih karne itu aku ngahap adik sanak kakang ading yang ade keruan lebih banyak supaye ditambahka di kolom komentar supaye pacak ku lengkapi agi cerite sejarah ini.
- SEJARAH
Penduduk asli Marge 4 Muara Sahung adalah keturunan suku SEMENDE LEMBAK yang berasal dari sumatra selatan. Pada mulanya penduduk Marge 4 Muara Sahung dipimpin oleh seorang PASIRAH yang sama artinya dengan seorang kepala desa,Sebelum Belanda masuk, desa ini bernama Tanjung Teriti, kemudian sejak pemerintahan Belanda, nenek moyang mengganti nama desa menjadi desa Muara Sahung yang berKewidaraan Kaur (Demang) dengan keResidenan Bangkahulu.
Ketika Bengkulu menjadi provinsi, mulailah Marga Sungai Are masuk wilayah Sumatra Selatan.
Muara sahung masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan dengan Kecamatan Kaur Tengah
Kaur kemudian menjadi kabupaten pada tahun 2003 sehingga hal ini diikuti juga dengan pemekaran wilayah kecamatan, pada tahun 2005muara sahung menjadi kecamatan pemekaran yang terdiri atas 7 desa diantaranya :
- Muara Sahung
- Ulak Lebar
- Ulak Bandung
- Bukit Makmur Transmigrasi (SP 3) 1995
- Tri Tunggal Bakti (SP 1) 1990
- Sumber Makmur (SP 2) 1993
- Cinta Makmur.
Jil : adalah bekas penjara jaman belanda, bertempat di desa Ulak Bandung
- SUKU
Suku asli masyarakat Marge 4 Muara Sahung adalah "Suku Semende " kata semende terdiri dari dua suku kata yaitu :➤ Seme : sama
➤ Ende : harga
sehingga filosofinya adalah dimana laki - laki dan perempuan diposisikan dalam kesama rataan, laki laki datang tidak untuk membeli perempuan dan sebaliknya (dalam perkawinan). yang mana dapat disimpulkan kata Semende adalah bahwa " laki-laki datang tidak dijual dan perempuan menunggu tidak membeli".
Namun ada juga yang berpendapat bahwa suku kata semende berasal dari dua kata :
➤ Se : Satu
➤ Ende : Induk/Ibu
Sehingga diartikan satu keturunasn nenek moyang.
Terlepas dari adanya perbedaan pendapat ini semoga tidak membawa hal yang buruk, namun semakin memperkaya budaya itu sendiri, yang terpenting ialah menjaga kelestarian sejarah nenek moyang.
Asal usul suku semende secara pasti belum diketahui dari mana, hal ini karena beragam pendapat yang berkembang di masyarakat pada umumnya. Namun salah satu versi cerita rakyat menyatakan bahwa suku semende pada zaman dahulu hidup bersama2 dengan suku palembang,sebelum masa kekuasaan kerajaan sriwijaya. Kemungkinan karena tekanan kekuasaan sriwijaya yang memperluas wilayahnya membuat suku ini berpencar hingga jauh kepedalaman sumatra selatan. Hal inilah yang membuat orang lebih banyak beranggapan bahwa suku ini bersal dari sumatra selatan.
Cuhup SP 1 by: Nis Photography
- BAHASA
Bahasa sehari-hari yang digunakaan adalah Base Semende yang termasuk dalam rumpun bahasa melayu, hal ini didapati dari bahasa keseharian suku ini yang pada umumnya berakhiran "e" yang merupakan ciri khas dari bahasa melayu.
Agar lebih afdhol, saya sertakan sebagian kecil dari kosa kata base semende dalam bentuk kamus sederhana sebagai berikut :
Agar lebih afdhol, saya sertakan sebagian kecil dari kosa kata base semende dalam bentuk kamus sederhana sebagai berikut :
Agas = nyamuk
|
Pantau =panggil
|
Ancau = encer
|
Agi = lagi
|
Antat = antar
|
Apay = pakaian bayi
|
AhE = buah ara
|
Ambik = ambil
|
Apuy = doyan makan
|
Ahapan = harapan
|
Antanan =kemauan
|
Apit juray = anak
angkat
|
Ajang = piring makan
|
Anyat = tarik
|
Ase = rasa
|
Ajung = suruh
|
Anyut = hanyut
|
Asenye = rasanya
|
Akap = gelap
|
AnyiE = anyir
|
Asoi = kantong
kresek
|
Alap =
bagus/cantik/tampan
|
Anyang = tawar
|
Asak galak = asal
mau
|
AlakE =
alangkah,saking
|
Anye = tapi
|
Ase ase = ragu-ragu
|
Ambe = hamba sahaya
|
Angit = sangit
|
Asam = tempoyak
|
Ambin = gendong
dibelakang
|
Angat = panas
|
Asingnye = jangan
samakan
|
AmpaE = jemur
|
Anguk =arah
|
Atah = gabah
|
Ampung = ringan
|
Angkit = angkat
|
Ayek = air
|
AmpE = padi tidak
ada isinya
|
Anyuk = tai ayam
|
Ayau = betul sekali
|
Ambung = keranjang
|
Anggit =
sedikit-sedikit
|
|
Ambik = ambil
|
Angguh = jaring ikan
|
|
Ampuk = hinaan
|
Ancangan = cita-cita
|
- BUDAYA
Buadaya/adat istiadat dalam masyarakat terlihat jelas bahwa suku ini sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu Islam.Budaya yang masih sangat erat dipegang oleh masyarakat semende adalah budaya Tunggu Tubang. Yang mana budaya ini berperan mengatur hak warisan dalam keluarga, ditentukan anak perempuan tertua adalah sebagai ahli waris yang utama, namun jika tidak ada anak perempuan maka anak laki2 tertua yang mewarisi.
Adapun warisan tersebut meliputi :
*Rumah (humah)
*Sawah
*Kolam (tebat)
*Kebun (hepang) Dll.
Pembagian harta warisan ini dibagi menjadi dua bagian :
1. Harta waris pusaka tinggi
2. Harta waris pusaka rendah
yang mana keduanya tidak boleh dpisahkan atau dibagi.
Ahli waris laki2 bertugas memelihara warisan supaya tidak rusak, berkurang ataupun hilang, namun laki2 tidak berhak menunggu (rumah).
Selain masalah warisan, budaya melayu islam ini dapat dilihat dari kesenian yang dikembangkan oleh masyarakat, seperti rebana, dll.
Teriak Bunting
Aadalah Kegiatan Kesenian yang dilakukan pada saat ada
pernikahan
Menggunakan alat music berupa gendang
👈👈
Tari Diwe Sembilan
Tarian adat yang
dilakukan pada saat
Acara acra resmi
seperti
Penyambutan tamu kehormatan👉👉
👇👇
- EKONOMI
Masyarakat pada umumnya hidup dari hasil pertanian yang dikembangan sendiri secara tradisional. terutama sawah dan ladang muda, untuk pertanian dalam jangka panjang atau kebun, masyarakat mengembangkan pertanian kopi.
Sumber Foto : Google
Bersambung....!!






